CILACAP – Pulau Nusakambangan yang selama ini dikenal sebagai “pulau penjara”, kini mulai bertransformasi jadi pusat ketahanan pangan. Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, meresmikan Program Ketahanan Pangan Nusakambangan pada Selasa (9/9).
Peresmian ini ditandai dengan penyerahan bantuan alat dan mesin pertanian dari Kementerian Pertanian kepada Kemenimipas. Langkah ini disebut sejalan dengan Asta Cita Presiden yang menekankan kedaulatan dan kemandirian pangan.
Menurut Agus, lahan luas Nusakambangan menyimpan potensi besar untuk swasembada pangan. Program ini bukan hanya soal produksi, tapi juga melibatkan warga binaan dalam kegiatan pertanian, peternakan, hingga perikanan.
“Ketahanan pangan yang dicanangkan Presiden harus dimulai dari diri sendiri. Dengan program ini, warga binaan bukan hanya mengolah tanah, tapi juga menanam harapan dan kemandirian,” ujar Agus.
Selain pertanian, Kemenimipas juga meluncurkan program penanaman 360 ribu pohon kelapa yang dilakukan serentak di seluruh kantor wilayah dan unit imigrasi-pemasyarakatan di Indonesia. Ke depan, Nusakambangan diproyeksikan jadi pusat hilirisasi kelapa sekaligus kawasan mandiri pangan.
Agus menegaskan, keberhasilan program ini akan jadi salah satu tolok ukur kinerja kepala lapas dan rutan.
“Transformasi pemasyarakatan harus lebih produktif dan berdaya saing, bukan hanya soal keamanan,” katanya.
Dengan berbagai program ini, Nusakambangan bukan lagi sekadar simbol penjara berpengaman tinggi. Citra Nusakambangan mulai bergeser dari pulau penjara, menuju pulau kemandirian.
Pulau ini perlahan menjelma jadi laboratorium sosial dan ekonomi, tempat warga binaan belajar membangun masa depan sambil menyumbang pada ketahanan pangan nasional. (red)















