Kerobokan – Program ketahanan pangan terus digencarkan oleh Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kerobokan sebagai bagian dari pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Melalui kegiatan pertanian terpadu, Lapas Kerobokan berhasil melakukan panen kangkung dan pakcoy di kawasan Lembah Hijau, Jumat (19/9).
Kalapas Kelas IIA Kerobokan, Hudi Ismono, menegaskan bahwa kegiatan pertanian menjadi salah satu fokus utama pembinaan.
“Panen kangkung dan pakcoy, ditambah dengan pengembangan tanaman jeruk bali serta pisang cavendish, merupakan strategi kami dalam memperkuat ketahanan pangan di Lapas Kerobokan. WBP tidak hanya memperoleh keterampilan bertani, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kemandirian,” ujarnya.
Program ini sejalan dengan ASTA CITA Presiden RI serta 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, yang menekankan pemberdayaan dan peningkatan kualitas WBP.
Hasil panen kangkung dan pakcoy diharapkan dapat mendukung kemandirian pangan di dalam Lapas sekaligus menjadi bukti nyata peran aktif warga binaan dalam mendukung program nasional.
Selain kangkung dan pakcoy, Lapas Kerobokan juga mengembangkan berbagai tanaman lain di Lembah Hijau, termasuk jeruk bali dan pisang cavendish.
Diversifikasi ini bertujuan memperkuat konsep pertanian terpadu, meningkatkan produktivitas, serta memberikan pengalaman nyata bagi WBP dalam mengelola berbagai jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Inovasi pembinaan kemandirian di bidang pertanian ini juga menjadi wujud nyata bahwa Pemasyarakatan tidak hanya fokus pada keamanan, tetapi juga berperan dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan mencetak warga binaan yang produktif.
“Dengan keterampilan yang diperoleh, diharapkan WBP dapat lebih siap kembali ke masyarakat, sekaligus memberi manfaat dalam kehidupan mereka setelah bebas nanti,” pungkas Hudi. (Red)















