SIDOARJO – Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Jawa Timur melakukan kunjungan silaturahmi ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surabaya atau yang dikenal sebagai Rutan Medaeng, Kamis (2/4). Kunjungan tersebut bertujuan melihat secara langsung perkembangan pelayanan serta pembinaan warga binaan di dalam rutan.
Dalam agenda tersebut, rombongan tidak hanya berdiskusi, tetapi juga meninjau sejumlah fasilitas di dalam rutan, mulai dari blok hunian hingga area pembinaan keterampilan. Dari hasil peninjauan, terlihat adanya perubahan signifikan baik dari sisi infrastruktur maupun sistem pelayanan yang lebih tertata dan modern.
Salah satu pembenahan yang menjadi perhatian adalah pembangunan gedung baru untuk mengatasi persoalan overkapasitas. Upaya ini dinilai penting untuk meningkatkan kualitas hunian warga binaan agar lebih layak dan sesuai dengan standar hak asasi manusia.
Selain itu, penerapan layanan berbasis digital juga menjadi bagian dari transformasi yang dilakukan. Sistem kunjungan dan pengaduan yang terintegrasi dinilai mampu meningkatkan transparansi serta meminimalisir potensi praktik pungutan liar di lingkungan rutan.
Komitmen Reformasi dan Zero Halinar
Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, menyatakan bahwa berbagai pembenahan yang dilakukan merupakan bagian dari komitmen untuk menghadirkan sistem pemasyarakatan yang lebih modern dan berorientasi pada kemanusiaan.
Menurut dia, transformasi tidak hanya dilakukan pada aspek fisik, tetapi juga pada sistem dan budaya kerja di dalam rutan. Ia menekankan pentingnya menjaga integritas melalui penerapan standar Zero Halinar, yakni bebas dari handphone, pungutan liar, dan narkoba.
“Transformasi ini adalah kerja kolektif seluruh jajaran. Kami berupaya memastikan bahwa pelayanan dan pembinaan berjalan secara transparan, akuntabel, serta tetap menjunjung nilai kemanusiaan,” ujar Adi Wibowo.
Ia menambahkan bahwa digitalisasi layanan menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat akuntabilitas publik. Dengan sistem yang lebih terbuka, diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemasyarakatan dapat terus meningkat.
Selain itu, pihaknya juga terus mendorong peningkatan kualitas hunian serta program pembinaan agar warga binaan memiliki bekal saat kembali ke masyarakat.
BADKO HMI Nilai Medaeng Layak Jadi Percontohan
Ketua Umum BADKO HMI Jawa Timur, M. Yusfan Firdaus, menilai keterbukaan yang diberikan oleh pihak rutan menjadi indikator penting dalam reformasi pemasyarakatan. Ia mengapresiasi kesempatan yang diberikan untuk melihat langsung kondisi di dalam rutan.
Menurutnya, perubahan yang terjadi di Rutan Medaeng tidak hanya terlihat dari sisi fisik, tetapi juga dari sistem dan pendekatan pembinaan yang lebih humanis.
“Pendekatan yang dilakukan tidak lagi semata-mata penghukuman, tetapi juga pemulihan. Kami melihat langsung lingkungan yang lebih tertata, kondusif, dan produktif,” kata Yusfan.
Ia juga menyoroti kondisi keamanan yang dinilai semakin terkendali serta keterbukaan informasi publik yang semakin baik. Hal tersebut, menurutnya, menjadi alasan kuat bahwa Rutan Medaeng layak dijadikan percontohan bagi unit pelaksana teknis lainnya di Jawa Timur.
Pembinaan Kemandirian Jadi Bekal Warga Binaan

Penguatan program pembinaan kemandirian juga menjadi bagian penting dalam transformasi yang dilakukan Rutan Medaeng. Program ini difokuskan pada pemberian keterampilan praktis yang dapat dimanfaatkan warga binaan setelah bebas.
Kasubsi Bimbingan Kegiatan, Rahmatullah, menjelaskan bahwa pembinaan dilakukan secara terstruktur dengan menitikberatkan pada kesiapan mental dan keterampilan kerja. Dalam pelaksanaannya, warga binaan dilibatkan dalam berbagai kegiatan produktif, seperti kerajinan tangan hingga manufaktur skala kecil.
Menurutnya, keterlibatan aktif dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan kepercayaan diri serta kesiapan untuk kembali ke masyarakat.
“Pembinaan difokuskan pada kesiapan mental dan keterampilan. Harapannya, saat mereka kembali ke masyarakat, mereka tidak lagi memulai dari nol, tetapi sudah memiliki bekal yang bisa dimanfaatkan,” ujar Rahmatullah.
Ia menambahkan bahwa sinergi dengan berbagai pihak serta pengawasan yang ketat turut mendukung terciptanya lingkungan pembinaan yang aman, produktif, dan berkelanjutan di dalam rutan.
Transformasi yang terjadi di Rutan Medaeng menunjukkan bahwa pembenahan di sektor pemasyarakatan dapat dilakukan secara menyeluruh, baik dari sisi infrastruktur, layanan, maupun pendekatan pembinaan yang lebih humanis. (red)






