CILEGON – Semangat baru kembali dihadirkan di lingkungan pemasyarakatan. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kakanwil Ditjenpas) Banten, Muhammad Ali Syech Banna, melakukan kunjungan langsung ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cilegon, Selasa (28/10) kemarin.
Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda rutin, melainkan bentuk nyata dari gerakan “Dekat Tanpa Sekat”, pendekatan humanis antara petugas pemasyarakatan dan warga binaan yang menekankan nilai kebersamaan, empati, dan pembinaan yang lebih bermakna.
Menyapa Tanpa Jarak, Mendengar dengan Hati
Sesampainya di Lapas Cilegon, Muhammad Ali Syech Banna disambut hangat oleh Kepala Lapas Cilegon, Raja Muhammad Ismael Novadiansyah, beserta jajaran pejabat struktural.
Berbeda dari kunjungan formal pada umumnya, kali ini Kakanwil memilih untuk turun langsung ke blok hunian warga binaan. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong kamar, menyapa satu per satu penghuni Lapas, bahkan berbincang santai dengan mereka.
Dalam interaksi penuh keakraban tersebut, Kakanwil mendengarkan berbagai masukan, keluhan, dan harapan warga binaan terhadap pelaksanaan program pembinaan. Suasana yang terbangun terasa hangat dan terbuka, jauh dari kesan kaku atau hierarkis.
“Kami ingin lebih dekat, tanpa sekat. Kehadiran kami di sini bukan hanya untuk memantau, tetapi untuk mendengar, memahami, dan memastikan pembinaan berjalan secara baik dan manusiawi,” ujar Muhammad Ali Syech Banna penuh ketulusan.
Menurutnya, keberhasilan pembinaan di dalam Lapas tidak hanya diukur dari tingkat kedisiplinan, tetapi juga dari rasa kepercayaan, keterbukaan, dan hubungan emosional antara petugas dan warga binaan. Pendekatan seperti inilah yang menjadi kunci terciptanya suasana kondusif dan mendorong perubahan perilaku yang lebih positif.
Pembinaan Humanis, Langkah Menuju Perubahan
Kakanwil menjelaskan bahwa konsep “Dekat Tanpa Sekat” merupakan strategi komunikasi dua arah untuk membangun rasa saling menghormati di antara seluruh unsur pemasyarakatan. Petugas bukan hanya pengawas, melainkan juga pembimbing dan motivator bagi warga binaan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap warga binaan merasakan kehadiran negara melalui sentuhan kemanusiaan. Mereka tidak ditinggalkan, tetapi dirangkul untuk tumbuh dan berubah,” tegasnya.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya Ditjenpas Banten dan Lapas Cilegon dalam menciptakan pemasyarakatan yang lebih modern, transparan, dan berorientasi pada pembinaan berkeadilan.
Melalui komunikasi terbuka dan interaksi langsung, diharapkan warga binaan dapat menumbuhkan kembali semangat hidup, kepercayaan diri, serta motivasi untuk memperbaiki diri selama menjalani masa pidana.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Cilegon, Raja Muhammad Ismael Novadiansyah, menyampaikan apresiasi tinggi atas kepedulian dan teladan yang diberikan Kakanwil.
Ia menilai bahwa kunjungan tersebut membawa energi positif dan semangat baru bagi seluruh jajaran pegawai maupun warga binaan di Lapas Cilegon.
“Langkah Kakanwil menjadi contoh nyata bagi kami untuk terus menumbuhkan semangat pembinaan yang berkeadilan, penuh empati, dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Raja Ismael kepada kabarimipas.id, Rabu (29/10).
Selain berdialog, Kakanwil juga meninjau langsung beberapa area pembinaan dan sarana kegiatan warga binaan, termasuk bengkel kerja dan ruang pelatihan keterampilan. Ia memberikan sejumlah arahan agar pembinaan produktif di Lapas Cilegon dapat terus berkembang dan berdampak langsung pada peningkatan kemampuan warga binaan menjelang masa bebas.
Membangun Harapan Baru di Balik Jeruji
Kegiatan bertajuk “Dekat Tanpa Sekat” menjadi simbol komitmen jajaran pemasyarakatan dalam menghadirkan sistem pembinaan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh sisi psikologis dan spiritual warga binaan.
Pendekatan yang humanis ini diyakini mampu mengurangi ketegangan, meningkatkan rasa saling percaya, serta memperkuat nilai-nilai kekeluargaan di dalam lingkungan pemasyarakatan.
Dengan hubungan yang lebih terbuka dan komunikasi yang efektif, Lapas dapat menjadi ruang perubahan, tempat di mana warga binaan belajar untuk memperbaiki diri dan menemukan kembali arah hidup yang positif.
“Kami ingin menunjukkan bahwa di balik jeruji besi masih ada harapan. Tugas kami adalah memastikan setiap warga binaan punya kesempatan untuk tumbuh dan berkontribusi ketika kembali ke masyarakat,” pungkas Kakanwil.
Melalui gerakan “Dekat Tanpa Sekat”, Ditjenpas Banten berkomitmen menjadikan setiap Lapas di wilayahnya sebagai tempat pembinaan yang manusiawi, inspiratif, dan penuh harapan.
Karena sejatinya, pembinaan terbaik bukan tentang hukuman, tetapi tentang kesempatan untuk berubah. (red)














