Singapura – Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Republik Indonesia kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat internasional. Kali ini, dua pemimpin pemasyarakatan Indonesia dipercaya sebagai delegasi resmi dalam International Correctional Leadership Programme (ICLP) 2025 yang diselenggarakan oleh Singapore Prison Service (SPS).
Kegiatan bergengsi ini berlangsung selama lima hari, mulai Senin, 22 September 2025 hingga Jumat, 26 September 2025, bertempat di Crowne Plaza Changi Airport, Singapura. Forum tersebut menjadi ajang penting bagi para pemimpin pemasyarakatan dunia untuk berbagi pengalaman, memperkuat kepemimpinan, serta membangun jejaring kolaborasi lintas negara.
Kalapas Kelas I Tangerang Pimpin Delegasi Indonesia
Dalam kesempatan ini, Indonesia diwakili oleh dua sosok penting. Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, didapuk sebagai Ketua Delegasi Indonesia. Sosok Beni bukanlah nama asing di dunia pemasyarakatan. Sebagai alumni Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP) angkatan 35, Beni dikenal sebagai pemimpin yang berkomitmen pada pembinaan humanis, inovatif, dan berbasis kemandirian bagi warga binaan.
Kehadirannya di forum internasional ini bukan hanya membawa nama baik Ditjenpas, tetapi juga menegaskan bahwa pemimpin pemasyarakatan Indonesia memiliki kapasitas untuk tampil sejajar dengan pemimpin pemasyarakatan dari negara lain. Dengan pengalaman panjangnya, Beni diharapkan mampu memperkenalkan berbagai inovasi pembinaan yang telah diterapkan di Lapas Kelas I Tangerang maupun di unit pemasyarakatan lain di Indonesia.
Mendampingi Beni adalah Kepala Rumah Tahanan Negara (Karutan) Kelas I Surakarta, Bhanad Shofa Kurniawan, yang ikut serta sebagai anggota delegasi. Bhanad merupakan alumni AKIP angkatan 42 dan dikenal sebagai pemimpin muda dengan semangat tinggi dalam mendorong modernisasi sistem pemasyarakatan.
Agenda Strategis ICLP 2025
ICLP 2025 menyajikan rangkaian kegiatan yang padat dan penuh manfaat. Di antaranya adalah Heritage Tour, Asian Prisons Lockdown Challenge 2025, Site Visit to Prison Facilities, Sharing by Correctional Leaders, hingga Social Programme.
Dalam agenda Sharing by Correctional Leaders, para delegasi diberi ruang untuk mempresentasikan praktik terbaik (best practice) dari masing-masing negara. Delegasi Indonesia memanfaatkan kesempatan ini untuk menampilkan inovasi pemasyarakatan, mulai dari program pembinaan kemandirian berbasis UMKM, pelatihan keterampilan warga binaan, hingga pemanfaatan teknologi informasi dalam pelayanan publik.
Agenda Site Visit to Prison Facilities juga menjadi momen penting untuk mempelajari langsung sistem pemasyarakatan di Singapura yang terkenal dengan standar tinggi dalam hal keamanan, manajemen, dan pembinaan narapidana.

Harumkan Nama Ditjenpas dan Indonesia
Partisipasi dua pemimpin pemasyarakatan ini mempertegas peran Ditjenpas Kemenimipas dalam menjalin hubungan internasional yang produktif.
Kehadiran Beni Hidayat sebagai Ketua Delegasi menjadi sorotan khusus, karena menunjukkan bahwa pemimpin lapas Indonesia mampu tampil di forum global dengan penuh percaya diri, membawa gagasan segar, serta menegaskan posisi Indonesia di bidang pemasyarakatan dunia.
Dalam kesempatan tersebut, Beni menyampaikan bahwa keikutsertaan Indonesia bukan hanya untuk belajar, tetapi juga memberi kontribusi bagi perkembangan sistem pemasyarakatan internasional.
“Menjadi Ketua Delegasi Indonesia di ICLP 2025 merupakan sebuah kehormatan besar. Kami hadir untuk membawa nama baik Ditjenpas dan Indonesia, sekaligus membuktikan bahwa pemasyarakatan kita telah memiliki praktik baik yang patut dibagikan di tingkat global. Harapan kami, apa yang kami serap dari forum ini dapat memperkuat transformasi pemasyarakatan di tanah air, agar semakin modern, adaptif, dan berdaya saing,” ujar Beni.
Sementara itu, Karutan Surakarta, Bhanad Shofa Kurniawan, menyampaikan rasa bangganya atas kepercayaan yang diberikan. Ia menegaskan bahwa pengalaman dari ICLP 2025 akan menjadi bekal penting dalam meningkatkan kualitas pengelolaan lapas dan rutan di Indonesia.
“Kesempatan ini tidak hanya memperluas wawasan kami, tetapi juga membuka peluang bagi pemasyarakatan Indonesia untuk mengadopsi praktik terbaik yang telah terbukti efektif di negara lain. Kami juga berkesempatan untuk sharing knowledge yang telah dilakukan di Lapas/Rutan di Indonesia kepada peserta lain,” ungkap Bhanad.
Keikutsertaan dua delegasi Indonesia di ICLP 2025 diharapkan membawa dampak jangka panjang. Selain memperluas jejaring kerja sama internasional, pengalaman ini juga akan memperkuat inovasi di tanah air, khususnya dalam mengembangkan program pembinaan warga binaan yang lebih relevan dengan tantangan zaman.
Dengan kehadiran Beni Hidayat dan Bhanad Shofa Kurniawan, Ditjenpas membuktikan bahwa kaderisasi pemimpin pemasyarakatan berjalan baik dan siap mengangkat nama Indonesia di panggung dunia.
Prestasi ini bukan hanya membanggakan Ditjenpas, tetapi juga seluruh jajaran Kemenimipas. Lebih dari itu, capaian ini menjadi pesan kuat bahwa pemasyarakatan Indonesia terus bertransformasi menuju sistem yang modern, profesional, dan diakui dunia internasional. (red)















