Balikpapan – Kreativitas warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Balikpapan kembali menjadi sorotan. Kali ini, hasil karya seni berupa lukisan kayu bakar bergambar Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sukses mencuri perhatian. Dengan memanfaatkan teknik pembakaran kayu atau wood burning art, warga binaan mampu menghasilkan karya yang tidak hanya memiliki nilai estetika tinggi, tetapi juga sarat makna.
Karya tersebut lahir dari program pembinaan kemandirian yang digagas Rutan Balikpapan, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kalimantan Timur. Melalui kegiatan ini, warga binaan didorong untuk menemukan potensi diri sekaligus menciptakan produk kreatif yang dapat menjadi bekal setelah bebas.
Seni Bakar Kayu Bernilai Tinggi
Teknik bakar kayu bukanlah hal yang sederhana. Prosesnya membutuhkan ketelitian, konsentrasi penuh, kesabaran, dan keterampilan seni tingkat tinggi. Setiap guratan api yang mengenai kayu harus dikendalikan secara presisi agar membentuk pola yang indah.
Lukisan bergambar Presiden Prabowo Subianto menjadi bukti nyata bagaimana warga binaan mampu menuangkan kreativitas sekaligus rasa nasionalisme dalam medium seni.
Potret Presiden yang tegas namun bersahaja berhasil ditampilkan dengan detail dan karakter kuat, sehingga karya tersebut bernilai lebih dari sekadar lukisan.
“Setiap garis dan bayangan yang terbentuk melalui proses pembakaran kayu adalah cerminan perjuangan dan kesungguhan warga binaan. Ini bukan sekadar seni, tetapi juga terapi mental dan emosional,” ujar Kepala Rutan Kelas IIA Balikpapan, Agus Salim, Rabu (24/9/25).
Agus Salim, mengapresiasi hasil karya yang diciptakan warga binaan. Menurutnya, karya tersebut bukan hanya membanggakan institusi, tetapi juga menunjukkan bahwa pembinaan di Rutan benar-benar memberikan dampak positif.
“Pembinaan ini menjadi wadah bagi warga binaan untuk mengasah potensi serta membentuk mental produktif. Harapannya, setelah kembali ke masyarakat, mereka bisa mandiri dan memberikan kontribusi positif,” ungkapnya.
Agus menegaskan bahwa Rutan Balikpapan konsisten mengembangkan berbagai program pembinaan, mulai dari seni, keterampilan, hingga kewirausahaan. Semua program tersebut dirancang agar warga binaan tidak hanya sekadar menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh keahlian baru.

Kegiatan ini juga menjadi bukti nyata implementasi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan, yang menekankan pentingnya pembinaan dan pengembangan diri warga binaan, serta 13 program Akselerasi Menteri Imipas.
Melalui pembinaan kemandirian, Rutan Balikpapan menunjukkan peran aktif dalam menyiapkan warga binaan agar siap kembali ke masyarakat dengan bekal keterampilan yang mumpuni.
Selain seni bakar kayu, Rutan Balikpapan juga memiliki berbagai program pelatihan lain. Semua kegiatan itu diarahkan agar warga binaan memiliki kemampuan praktis yang bisa diterapkan untuk membuka peluang usaha.
Karya seni lukisan kayu bergambar Presiden Prabowo Subianto ini diharapkan menjadi simbol semangat baru bagi warga binaan di seluruh Indonesia. Bahwa meskipun berada di balik jeruji, kreativitas tetap bisa tumbuh dan memberikan manfaat luas.
Agus Salim menambahkan, karya seni warga binaan Rutan Balikpapan juga terbuka untuk dipamerkan maupun dipasarkan. Dengan demikian, publik bisa melihat langsung hasil kreativitas warga binaan sekaligus memberi dukungan moral bagi mereka.
“Setiap karya seni adalah bukti bahwa pembinaan bukan hanya tentang disiplin, tetapi juga tentang memberi kesempatan kedua. Melalui karya-karya ini, masyarakat bisa melihat sisi humanis dari pemasyarakatan,” tegas Agus.
Karya seni ini bukan hanya tentang estetika, tetapi juga tentang harapan baru. Warga binaan yang berkarya menunjukkan bahwa perubahan itu nyata, dan setiap orang berhak mendapat kesempatan untuk memperbaiki diri.
Dengan adanya dukungan dari Rutan Balikpapan dan Kanwil Ditjenpas Kaltim, diharapkan kreativitas seperti ini akan terus tumbuh, melahirkan karya-karya lain yang membanggakan.
Kisah sukses ini juga bisa menjadi inspirasi bagi warga binaan lain di seluruh Indonesia untuk tidak menyerah pada keadaan. Karena sejatinya, pemasyarakatan bukan akhir, melainkan jalan menuju awal yang lebih baik. (Red)















