Tangerang – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang terus berinovasi dalam memberdayakan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Inovasi yang dilakukan oleh Lapas Tangerang bukan hanya sekedar langkah biasa, tapi merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas hidup Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Dengan memahami kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat akan produk ramah lingkungan, Lapas Tangerang mengambil langkah berani untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Salah satu terobosan terbaru adalah produksi paving block dan batako ramah lingkungan bernama Jawara Beton, yang memanfaatkan limbah Fly Ash and Bottom Ash (FABA) dari PLTU Lontar.
Paving block dan batako yang dihasilkan tidak hanya berfungsi sebagai alternatif material bangunan, tetapi juga membantu mengurangi dampak negatif limbah industri. Proses produksi yang menggunakan teknologi modern dan bahan baku yang bersih menjadikan Jawara Beton sebagai pilihan yang tepat bagi konsumen yang peduli lingkungan.
Produk unggulan ini mendapat perhatian langsung dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas) Agus Andrianto, yang meninjau proses produksinya pada Kamis (21/8).
Menimipas Agus Andrianto berkomitmen untuk mendukung proyek ini, karena ia percaya bahwa inisiatif semacam ini dapat menjadi model bagi lembaga pemasyarakatan lainnya di Indonesia. Dengan memberikan perhatian yang lebih kepada inovasi produk, diharapkan WBP dapat berkontribusi secara positif terhadap perekonomian dan sosial masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut, Menimipas menegaskan bahwa Lapas Tangerang tidak hanya menjadi tempat pembinaan, tetapi juga pusat inovasi yang mampu menghasilkan karya bernilai ekonomi.
Dengan adanya kunjungan dari Menimipas, ini menjadi motivasi tersendiri bagi WBP untuk terus berkarya dan berinovasi. Proses pembinaan di Lapas Tangerang kini tidak hanya berkutat pada hukum dan disiplin, tetapi juga pada pengembangan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar.
“Lapas Tangerang menunjukkan komitmen nyata dalam pembinaan. Inovasi Jawara Beton bukan sekadar produk, melainkan bukti bahwa Warga Binaan memiliki potensi besar untuk menghasilkan karya berkualitas yang berdaya saing tinggi,” ujar Agus Andrianto.
“Lapas Tangerang juga bekerja sama dengan berbagai asosiasi dan lembaga pendidikan untuk memberikan pelatihan yang lebih terstruktur. Dengan demikian, WBP tidak hanya mendapatkan pengalaman produksi, tetapi juga pengetahuan tentang manajemen usaha dan keterampilan interpersonal yang berguna dalam dunia kerja,” tambah Agus Andrianto.
Lapas Tangerang sebagai Pusat Inovasi Produk Ramah Lingkungan
Dengan kualitas K100 yang dihasilkan, Jawara Beton berpotensi untuk memasuki pasar yang lebih luas, bahkan hingga ekspor. Ini adalah peluang besar untuk meningkatkan pendapatan lembaga dan memberikan lebih banyak kesempatan bagi WBP untuk terlibat dalam industri yang berkembang.
Produk Jawara Beton yang diproduksi Lapas Tangerang telah memenuhi standar K100, sehingga memiliki kualitas mumpuni untuk dipasarkan secara luas. Setiap harinya, unit produksi mampu menghasilkan rata-rata 1.500 buah paving block dan batako.
Sementara itu, Lapas Tangerang telah menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan konstruksi yang tertarik untuk menggunakan produk Jawara Beton. Hal ini tidak hanya memberikan pemasaran yang lebih baik, tetapi juga membantu meningkatkan kepercayaan diri WBP dalam menghasilkan produk berkualitas tinggi.
Dengan pemanfaatan limbah FABA, produk ini sekaligus menjadi solusi ramah lingkungan bagi industri energi. Menimipas menyebut, jika dikelola dengan konsisten, inovasi yang lahir dari Lapas Tangerang ini bisa menjadi contoh nasional dalam pengelolaan limbah industri sekaligus menambah Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Inisiatif ini juga berpotensi untuk mengurangi angka pengangguran di kalangan mantan narapidana, karena mereka sudah memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh industri. Program pelatihan yang lebih komprehensif akan memastikan bahwa setelah bebas, mereka memiliki bekal yang cukup untuk kembali ke masyarakat.
Dirjen Pemasyarakatan, Mashudi, turut memberikan apresiasi atas kinerja Lapas Tangerang.
Dengan pengembangan produk yang berbasis pada limbah, Lapas Tangerang menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dapat dilakukan secara efisien dan berkelanjutan. Ini adalah langkah positif menuju tujuan pembangunan berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Lapas Tangerang sebagai lembaga yang inovatif.
Ia menegaskan bahwa pihaknya akan menambah peralatan produksi baru untuk meningkatkan kapasitas dan memperluas kesempatan bagi lebih banyak Warga Binaan untuk terlibat.
Pengadaan peralatan baru yang direncanakan akan membuat proses produksi lebih efisien dan meningkatkan output dari produk yang dihasilkan. Ini akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi WBP dan memberikan mereka kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang proses produksi.
“Lapas Tangerang menjadi role model pembinaan berbasis kemandirian. Ke depan, lebih banyak WBP akan dilibatkan karena mereka sudah dibekali pelatihan khusus,” ungkap Mashudi.
Program Jawara Beton ini juga dapat menjadi contoh bagi lembaga pemasyarakatan lainnya untuk mengikuti jejak Lapas Tangerang dalam mengembangkan inovasi produk ramah lingkungan. Dengan semangat kolaboratif, diharapkan dapat mengurangi stigma negatif yang melekat pada mantan narapidana.
Program Jawara Beton di Lapas Tangerang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga fokus pada pemberdayaan Warga Binaan. Melalui kegiatan ini, mereka mendapatkan keterampilan, disiplin kerja, serta bekal untuk hidup mandiri setelah bebas nanti.
Lebih jauh lagi, keterlibatan masyarakat dalam program ini sangat penting. Masyarakat dapat berperan aktif dalam mendukung produk yang dihasilkan, yang pada akhirnya akan meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap mantan narapidana dan mengubah pandangan negatif menjadi positif.
“Program ini membantu mengurangi stigma negatif masyarakat terhadap mantan narapidana, karena terbukti mereka mampu menghasilkan karya yang bermanfaat,” ujar Mashudi.
Untuk memastikan keberlangsungan program, penting bagi Lapas Tangerang untuk membangun jaringan baik dengan pemerintah maupun sektor swasta. Kerjasama ini akan membuka peluang baru yang bermanfaat bagi semua pihak, dan memperkuat posisi Lapas Tangerang sebagai lembaga yang berfokus pada pemberdayaan dan inovasi.
Kalapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat menambahkan bahwa, kehadiran Jawara Beton menjadi bukti bahwa Lapas Tangerang konsisten mendukung arahan Menimipas untuk menjadikan lembaga pemasyarakatan sebagai pusat pembinaan produktif.
Pentingnya pembinaan yang berbasis kemandirian ini tidak hanya berdampak pada WBP, tetapi juga terhadap keluarga mereka. Ketika seorang narapidana memiliki keterampilan yang baik, mereka dapat memberikan kontribusi yang positif bagi keluarga dan masyarakat setelah kembali.
Menurut Beni, Sinergi antara Lapas Tangerang, PLTU Lontar, dan masyarakat diharapkan mampu menciptakan ekosistem pembinaan yang berkelanjutan.
Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi model bagi lembaga pemasyarakatan lainnya yang ingin melakukan hal serupa, dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dan dampak sosial dari setiap program yang dijalankan. Sebuah langkah kecil dari Lapas Tangerang dapat membawa perubahan besar bagi kehidupan banyak orang.
“Lapas Tangerang tidak hanya fokus pada keamanan, tetapi juga pada pembinaan dan pemberdayaan. Inilah bentuk nyata kontribusi Pemasyarakatan dalam menyiapkan WBP agar kembali ke masyarakat sebagai pribadi mandiri dan berdaya saing,” tandas Beni.
Secara keseluruhan, Lapas Tangerang tidak hanya menunjukkan bahwa mereka peduli terhadap WBP, tetapi juga berkomitmen untuk berkontribusi pada pembangunan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan produk Jawara Beton, Lapas Tangerang memposisikan diri sebagai pelopor dalam inovasi dan pemberdayaan masyarakat. (Red)















