Tangerang — Siapa sangka, dari balik tembok Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tangerang (Lapas Tangerang) , tumbuh semangat kemandirian yang luar biasa. Sabtu (18/10), Lapas ini kembali mencuri perhatian publik lewat keberhasilan Lapas Tangerang Panen Gingseng berkualitas tinggi di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE).
Keberhasilan Lapas Tangerang Panen Gingseng ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi warga binaan, tetapi juga menandakan bahwa dengan bimbingan dan dukungan yang tepat, mereka dapat menjadi bagian dari solusi untuk tantangan ketahanan pangan yang dihadapi Indonesia saat ini.
Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi warga binaan, tetapi juga menandakan bahwa dengan bimbingan dan dukungan yang tepat, mereka dapat menjadi bagian dari solusi untuk tantangan ketahanan pangan yang dihadapi Indonesia saat ini. Dalam konteks ini, penting untuk membahas potensi ginseng yang sering dianggap sebagai tanaman herbal yang bermanfaat bagi kesehatan, serta nilai ekonominya yang tinggi di pasar.
Langkah ini bukan hanya sekadar kegiatan pertanian biasa, tetapi juga bukti nyata dukungan terhadap 13 Program Akselerasi yang digagas Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, sekaligus bentuk kontribusi langsung dalam mewujudkan Asacita Presiden Prabowo Subianto, terutama di bidang ketahanan pangan dan pemberdayaan sumber daya manusia.
Selain itu, ginseng juga dikenal memiliki berbagai khasiat, seperti meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi stres, dan meningkatkan konsentrasi. Dengan menanam dan memanen ginseng, warga binaan tidak hanya belajar tentang pertanian tetapi juga tentang manfaat tanaman ini, yang bisa mereka bagi kepada masyarakat setelah mereka dibebaskan.
Lapas Tangerang Panen Gingseng: Membentuk Warga Binaan yang Mandiri
Tanaman ginseng yang dipanen kali ini merupakan hasil dari kerja keras para warga binaan yang tergabung dalam program pembinaan kemandirian di bawah koordinasi Seksi Kegiatan Kerja Lapas Tangerang.
Program ini juga melibatkan pelatihan tentang teknik budidaya ginseng yang baik dan benar, bagaimana cara memilih bibit yang berkualitas, serta cara perawatan yang tepat agar tanaman dapat tumbuh optimal. Melalui pelatihan tersebut, warga binaan dilatih untuk memahami siklus hidup tanaman dan aspek-aspek penting lainnya dalam pertanian yang berkelanjutan.
Dengan sistem tanam organik dan perawatan intensif, hasil panen kali ini menghasilkan ginseng yang tidak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga bernilai ekonomi tinggi serta memiliki khasiat kesehatan luar biasa.
Dalam proses panen, warga binaan juga diajarkan untuk memahami bagaimana cara mengolah ginseng menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi, seperti ekstrak ginseng, teh ginseng, dan berbagai produk olahan lainnya. Dengan demikian, mereka tidak hanya belajar menanam, tetapi juga berinovasi dalam pengolahan hasil pertanian.
Kepala Lapas Kelas IIA Tangerang, Triana Agustin, menegaskan bahwa keberhasilan panen ini bukan hanya tentang hasil pertanian, tetapi juga tentang transformasi manusia.
“Panen ginseng ini adalah wujud nyata pelaksanaan 13 Akselerasi, khususnya di bidang peningkatan kemandirian dan produktivitas warga binaan. Kami ingin membuktikan bahwa warga binaan juga bisa produktif dan berkontribusi dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional, sejalan dengan visi besar Asacita Presiden Prabowo Subianto,” ujar Nana, panggilan akrab Kalapas Kelas IIA Tangerang.
Sinergi Lapas dan Program Nasional Ketahanan Pangan
Ginseng menjadi salah satu komoditas bernilai tinggi yang kini mulai dilirik untuk dikembangkan di lingkungan pemasyarakatan. Melalui program pembinaan berbasis pertanian ini, warga binaan tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga memahami nilai kerja keras, tanggung jawab, dan produktivitas.
Program ini juga berperan dalam membangun rasa percaya diri warga binaan. Saat mereka melihat hasil kerja keras mereka berbuah manis, hal ini meningkatkan motivasi untuk terus belajar dan berkembang. Perubahan sikap ini sangat penting dalam proses rehabilitasi mereka, sehingga mereka merasa lebih siap untuk kembali ke masyarakat.
Semangat ini sejalan dengan arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, yang menekankan pentingnya membangun lapas sebagai pusat pembinaan kemandirian, bukan hanya tempat menjalani hukuman.
Program panen ginseng ini menjadi bagian dari implementasi 13 Akselerasi Pemasyarakatan, khususnya poin tentang peningkatan produktivitas, kemandirian ekonomi, dan kontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.
Dengan keberhasilan panen ginseng ini, diharapkan Lapas Tangerang dapat menjadi model bagi lembaga pemasyarakatan lainnya di Indonesia untuk mengembangkan program serupa. Hal ini penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung rehabilitasi dan reintegrasi warga binaan ke masyarakat, sehingga mereka dapat berkontribusi positif setelah menjalani masa hukuman.
Dengan demikian, hasil kerja keras warga binaan tidak berhenti di balik tembok, tetapi memberi manfaat luas bagi masyarakat dan bangsa.
Dari Lapas untuk Indonesia Mandiri
Hasil panen ginseng tersebut rencananya akan dimanfaatkan untuk dua tujuan utama yairu kebutuhan internal serta pengembangan produk hasil pembinaan bernilai ekonomi. Ke depan, produk ini berpotensi menjadi komoditas unggulan yang dipasarkan melalui kerja sama antarinstansi maupun mitra swasta.
Lebih dari itu, kegiatan ini memiliki makna strategis yaitu membekali warga binaan dengan keterampilan nyata yang dapat mereka terapkan setelah bebas nanti.
Dengan keterampilan bertani, mereka punya bekal untuk membangun kehidupan baru yang lebih baik, mandiri, dan produktif di tengah masyarakat.
Langkah Nyata Menuju Asacita Presiden Prabowo
Program panen ginseng di Lapas Tangerang adalah contoh konkret bagaimana Asacita Presiden Prabowo Subianto diterjemahkan ke dalam aksi nyata di lapangan.
Melalui semangat inovasi, kolaborasi, dan produktivitas, Lapas Kelas IIA Tangerang menjadi bagian penting dalam membangun Indonesia yang mandiri, maju, dan berdaulat dalam bidang pangan dan sumber daya manusia.
“Kami berkomitmen mendukung penuh program 13 Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, sekaligus menjadi bagian dari visi besar Asacita Presiden Prabowo Subianto,” tegas Nana.
Dengan keberhasilan panen ginseng ini, Lapas Tangerang membuktikan bahwa di balik proses pembinaan, terdapat potensi besar untuk mencetak manusia-manusia baru yang produktif dan berkontribusi bagi bangsa.
Ini adalah langkah besar menuju Indonesia yang lebih baik, di mana semua warga, termasuk mereka yang pernah terlibat dalam masalah hukum, diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Mengubah stigma negatif menjadi positif adalah tantangan yang dapat diatasi dengan program-program yang tepat.
Dari balik jeruji besi, tumbuh harapan baru bahwa setiap insan bisa berubah, tumbuh, dan memberi manfaat untuk Indonesia.
Di masa depan, Lapas Tangerang berencana untuk menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk akademisi dan pelaku industri, untuk mendorong inovasi lebih lanjut dalam pengolahan ginseng dan produk pertanian lainnya. Dengan demikian, program ini tidak hanya berfokus pada pertanian semata, tetapi juga membuka peluang bagi penelitian dan pengembangan yang lebih luas, yang akan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat. (red)















