SEKAYU – Di sebuah sudut Kabupaten Musi Banyuasin, program gerobak usaha Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sekayu menjadi secercah harapan di tengah beban hidup yang menekan. Anita berkali-kali menyeka keringat di dahinya sejak suaminya mendekam di balik jeruji besi Lapas Sekayu.
Menjadi orang tua tunggal secara mendadak dengan keterbatasan ekonomi bukanlah perkara mudah. Namun, harapan itu benar-benar hadir di depan pintu rumahnya melalui bantuan gerobak usaha dari Lapas Sekayu.
Sebuah gerobak usaha berbahan besi kokoh diserahkan langsung oleh Kepala Lapas Sekayu, Aris Sakuriyadi. Program gerobak usaha Lapas Sekayu ini bukan sekadar seremoni peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62, melainkan langkah nyata untuk membantu keluarga binaan yang kerap luput dari perhatian.
Memutus Rantai Stigma dan Kemiskinan
Program gerobak usaha Lapas Sekayu menunjukkan bahwa fungsi pemasyarakatan tidak berhenti di dalam tembok penjara. Aris Sakuriyadi menegaskan bahwa bantuan ini merupakan wujud kepedulian sosial yang terarah dan berkelanjutan.
“Kami ingin hadir tidak hanya bagi warga binaan di dalam, tetapi juga untuk keluarga mereka di luar. Seringkali, keluarga menjadi pihak yang ikut terdampak namun kurang mendapatkan perhatian,” ujar Aris kepada Kabar Imipas, Senin (20/4/2026).
Ia menambahkan bahwa program ini dirancang untuk mendorong kemandirian ekonomi keluarga binaan. Menurutnya, bantuan bukan sekadar diberikan, tetapi harus mampu menjadi jalan keluar jangka panjang.
“Melalui program gerobak usaha Lapas Sekayu ini, kami ingin memberikan kesempatan agar mereka bisa bangkit dan mandiri. Ketika keluarga kuat secara ekonomi, pembinaan warga binaan di dalam juga akan lebih optimal,” tambahnya.
Harapan yang Menjelma Nyata
Bagi Anita, program gerobak usaha Lapas Sekayu menjadi jawaban atas doa-doa panjangnya. Selama ini ia hanya mengandalkan pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu.
Ia berencana memanfaatkan gerobak tersebut untuk membuka usaha kuliner kecil di wilayah Sekayu. Harapannya, usaha ini dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya.
“Alhamdulillah, bantuan ini sangat berarti bagi saya dan keluarga. InsyaAllah, gerobak ini akan saya gunakan sebaik mungkin untuk menyambung hidup dan menyekolahkan anak-anak,” ungkap Anita dengan suara haru.
Ia juga mengaku bantuan tersebut memberinya semangat baru untuk bangkit dari kondisi sulit yang selama ini dihadapi.
“Setidaknya sekarang saya punya pegangan untuk mulai usaha. Mudah-mudahan bisa berkembang dan cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” lanjutnya.
Langkah Lapas Sekayu ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi berbagai pihak untuk melihat sisi kemanusiaan dalam sistem pemasyarakatan. Keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari kondisi di dalam lapas, tetapi juga dari kesiapan keluarga untuk kembali mandiri di tengah masyarakat.
Menuju Reintegrasi yang Paripurna
Peringatan HBP ke-62 di Sekayu menghadirkan pendekatan yang lebih inklusif. Program gerobak usaha Lapas Sekayu menjadi bukti adanya perhatian terhadap penguatan ekonomi keluarga warga binaan.
Di tengah tantangan ekonomi yang semakin berat, program ini menjadi harapan nyata. Tidak hanya memberikan alat usaha, tetapi juga membuka peluang untuk hidup lebih layak dan mandiri.
Melalui program gerobak usaha Lapas Sekayu, pesan kuat disampaikan bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, termasuk keluarga narapidana. Kini, peluang itu berada di tangan Anita dan para penerima manfaat lainnya untuk diwujudkan menjadi kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan. (red)















