Surabaya — Di sudut Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surabaya, suasana perpustakaan kini tak lagi sekadar tempat menyusun buku-buku di rak kayu. Ruangan itu perlahan berubah menjadi ruang pembinaan Rutan Surabaya. Tempat para warga binaan diajak membaca, berpikir, lalu menuliskan kembali pemahaman mereka tentang kehidupan. Selain itu, ruang ini juga dilengkapi dengan fasilitas yang mendukung kegiatan literasi, seperti diskusi kelompok, dan bimbingan dari petugas perpustakaan yang terlatih.
Program bertajuk “Literasi Pemasyarakatan, Gerakan Membaca Warga Binaan” itu menjadi pendekatan baru Rutan Surabaya dalam menangani warga binaan yang melakukan pelanggaran tata tertib. Jika sebelumnya hukuman identik dengan straf sel dan pembatasan aktivitas, kini para pelanggar aturan diwajibkan untuk masuk perpustakaan, membaca buku, lalu membuat esai dari inti sari bacaan yang mereka pelajari. Program ini juga mencakup pelatihan penulisan kreatif untuk membantu mereka mengekspresikan diri dengan lebih baik.
Buku-buku yang disiapkan bukan sembarang bacaan. Di rak perpustakaan tersedia literasi tentang bahaya dan dampak narkoba, psikologi, pengembangan diri, hingga biografi Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Imipas Agus Andrianto. Melalui bacaan tersebut, warga binaan diharapkan tidak hanya memahami kesalahan yang pernah dilakukan, tetapi juga mengenal nilai kepemimpinan, kedisiplinan, dan perjuangan para tokoh bangsa. Selain itu, mereka juga diberikan pilihan buku yang dapat memperluas imajinasi dan memberikan sudut pandang baru terhadap kehidupan.
Kepala Rutan Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, menyebut pendekatan itu sebagai bagian dari pembinaan mental dan perubahan pola pikir warga binaan. Dia menekankan pentingnya literasi sebagai alat untuk mengubah cara berpikir dan memperbaiki perilaku, serta membangun rasa percaya diri warga binaan agar dapat berintegrasi kembali ke masyarakat setelah menjalani hukuman.
“Inovasi Perpustakaan Rutan Surabaya menjadi langkah positif dalam pembinaan warga binaan melalui pendekatan literasi. WBP yang melakukan pelanggaran tidak hanya menjalani hukuman, tetapi juga diwajibkan membaca buku dan membuat esai dari inti sari buku yang telah dibaca sebagai bentuk refleksi serta pembelajaran diri. Kami berharap bahwa program ini dapat mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang lebih baik di luar sana,” kata Adi Wibowo, Kamis (28/5/2026).
Menurut dia, pembinaan berbasis literasi dipilih karena mampu menyentuh sisi psikologis warga binaan. Mereka tidak hanya dihukum, tetapi diajak memahami dampak dari tindakan yang dilakukan dan diarahkan membangun cara pandang yang lebih baik terhadap kehidupan.

Yang menarik, program ini tidak berhenti pada kegiatan membaca semata. Setiap warga binaan diwajibkan membuat esai sebagai bukti bahwa mereka benar-benar membaca dan memahami isi buku yang dipelajari.
Petugas kemudian mendokumentasikan proses pembinaan hingga hasil tulisan warga binaan melalui video sebagai bentuk transparansi publik. Dengan demikian, program ini juga berfungsi sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan program di masa depan.
“Program ini tidak sekadar seremonial. Mereka tidak bisa berpura-pura membaca atau berbohong karena ada esai yang dibuat sebagai bentuk pertanggungjawaban atas buku yang dibaca. Hal ini juga menjadi motivasi bagi mereka untuk benar-benar memahami materi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Adi Wibowo.
Program yang dilaksanakan setiap hari itu mulai memunculkan perubahan suasana di dalam rutan. Perpustakaan yang sebelumnya sepi kini lebih ramai dikunjungi warga binaan. Sebagian mulai terbiasa membaca, berdiskusi, bahkan menunggu giliran meminjam buku. Para petugas mencatat perkembangan ini dengan baik, sehingga mereka dapat memberikan umpan balik kepada manajemen Rutan Surabaya tentang kemajuan warga binaan.
Bagi Rutan Surabaya, perpustakaan kini bukan lagi sekadar ruang baca. Tempat itu perlahan menjadi ruang refleksi, tempat hukuman berubah menjadi pembelajaran, dan buku menjadi jalan untuk membangun kembali karakter manusia. (red)















