BOGOR – Halaman Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur belum sepenuhnya hangat. Matahari baru naik, tapi barisan sudah rapi. Petugas berdiri tegak. Warga binaan berderet dalam formasi yang sama. Tidak banyak suara, hanya langkah yang sesekali bergeser. Di Lapas Khusus Gunung Sindur, suasana pagi mulai terasa penuh harapan.
Di tengah lapangan itu, sebuah ikrar dibacakan. Serempak, pelan, dan tanpa banyak ekspresi.
Ikrar Zero HALINAR
Istilah HALINAR merujuk pada tiga persoalan yaitu handphone ilegal, pungutan liar, dan narkoba yang kerap muncul dalam pengawasan sekaligus menjadi titik rawan dalam sistem pemasyarakatan.
Lapas Khusus Gunung Sindur berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi warga binaan.
Apel pagi itu dipimpin langsung oleh Kepala Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, Wahyu Indarto. Ia berdiri di depan barisan, menyampaikan amanat tanpa banyak retorika.
“Ikrar ini tidak boleh berhenti di lapangan apel. Kalau setelah ini masih ada handphone ilegal atau praktik lain, berarti komitmen kita belum berjalan. Ini tanggung jawab bersama, bukan hanya petugas, tapi juga warga binaan,” tegas Wahyu.
Larangan terhadap handphone dan narkoba di dalam lapas bukan hal baru. Aturan sudah ada, bahkan fasilitas komunikasi resmi juga disediakan. Namun dalam praktiknya, pelanggaran tetap ditemukan.
Handphone sering dianggap sebagai jalan pintas untuk tetap terhubung dengan keluarga. Di sisi lain, celah dalam pengawasan, sekecil apa pun, tetap bisa dimanfaatkan.
Karena itu, pembacaan ikrar pagi itu tidak hanya menjadi formalitas. Seluruh peserta mengucapkannya dalam satu suara, tanpa perbedaan.

Menjaga dari Dalam
Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur terus memperkuat pengawasan dan pemeriksaan. Namun, menurut Wahyu Indarto, pendekatan itu tidak cukup jika tidak diiringi kesadaran dari dalam.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan razia. Kalau mindset-nya tidak berubah, pelanggaran akan terus berulang. Yang kita bangun bukan hanya pengawasan, tapi juga kesadaran,” katanya.
Ia menegaskan bahwa setiap pelanggaran akan ditindak tegas sesuai aturan. Di sisi lain, pembinaan tetap berjalan sebagai bagian dari proses pemasyarakatan.
Di Lapas Khusus Gunung Sindur, ikrar Zero HALINAR kembali diucapkan. Bukan hal baru, tetapi tetap menjadi penegasan bahwa upaya menjaga lapas dari pelanggaran masih terus berlangsung dan akan diuji dalam praktik sehari-hari.
Apel pun usai. Barisan dibubarkan, dan aktivitas kembali berjalan seperti biasa. Yang tersisa bukan sekadar rangkaian kegiatan, melainkan komitmen yang harus dijaga dalam keseharian di dalam lapas. (red)






