SURABAYA – Rutan Kelas I Surabaya menggelar kegiatan psikoedukasi bagi Orang dengan HIV (ODHIV) dalam rangka memperingati Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62. Program ini menjadi bagian dari upaya pembinaan yang menitikberatkan pada kesehatan mental dan kesejahteraan emosional warga binaan.
Psikoedukasi ODHIV Rutan Surabaya ini diikuti oleh sejumlah warga binaan yang tergabung dalam layanan kesehatan. Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan partisipatif dengan melibatkan berbagai pihak, di antaranya Dita Amalia dari Plato Foundation, Yanti dari Diskominfo Jawa Timur, Onky Sandithya dari Yayasan Mahameru, serta Widiar Wahyudi Putra dari PKBI Jawa Timur.
Peserta tampak aktif mengikuti berbagai sesi interaktif seperti diskusi kelompok, refleksi diri, dan latihan pengenalan emosi. Metode ini dirancang untuk membantu warga binaan memahami pentingnya self-compassion atau sikap welas asih terhadap diri sendiri, khususnya dalam menghadapi stigma sosial dan tekanan psikologis selama menjalani masa pembinaan.
Menurut Dita Amalia dari Plato Foundation, pendekatan self-compassion menjadi kunci dalam menjaga kesehatan mental ODHIV di lingkungan tertutup seperti rutan.
“Self-compassion membantu individu menerima dirinya tanpa menghakimi, sekaligus mengurangi rasa bersalah dan tekanan batin yang kerap muncul,” ujar Dita.
Hal senada disampaikan Onky Sandithya dari Yayasan Mahameru yang menyebut bahwa dukungan psikososial sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup ODHIV. Ia menilai kegiatan ini menjadi ruang aman bagi warga binaan untuk mulai memahami kondisi diri secara lebih terbuka.
Sementara itu, Yanti dari Diskominfo Jawa Timur menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari kolaborasi lintas sektor dalam mendukung program pembinaan yang lebih inklusif. Adapun Widiar Wahyudi Putra dari PKBI Jawa Timur menilai edukasi semacam ini penting untuk memperkuat ketahanan mental sekaligus mendorong perubahan perilaku yang lebih positif.
Pandangan tersebut sejalan dengan kebijakan internal rutan yang mulai menekankan pendekatan pembinaan berbasis kemanusiaan. Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, menyebut kegiatan ini sebagai salah satu upaya untuk melengkapi pembinaan yang tidak hanya berfokus pada kedisiplinan, tetapi juga aspek psikologis warga binaan.
“Melalui kegiatan ini diharapkan warga binaan memiliki bekal untuk mengelola stres, meningkatkan kepercayaan diri, serta membangun harapan ke depan,” kata Adi Wibowo.
Pelaksanaan psikoedukasi ODHIV Rutan Surabaya menunjukkan adanya pergeseran pendekatan dalam sistem pemasyarakatan yang kini semakin memperhatikan aspek kesehatan mental. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga ruang refleksi bagi warga binaan.
Namun, di lapangan masih terdapat sejumlah tantangan. Keterbatasan tenaga profesional di bidang kesehatan mental serta perlunya pendampingan berkelanjutan menjadi catatan penting. Selain itu, stigma terhadap ODHIV di lingkungan pemasyarakatan disebut masih menjadi hambatan yang belum sepenuhnya teratasi.
Beberapa peserta diakui masih membutuhkan dukungan jangka panjang agar manfaat kegiatan ini tidak berhenti pada satu momentum saja.
Secara umum, kegiatan ini memberikan dampak positif awal dalam meningkatkan kesadaran diri dan kemampuan mengelola emosi warga binaan. Psikoedukasi ini juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang lebih sehat dan suportif.
Program seperti Psikoedukasi ODHIV Rutan Surabaya dinilai dapat menjadi model awal pendekatan pembinaan yang lebih menyeluruh, terutama jika diikuti dengan keberlanjutan program dan evaluasi berkala.
Dengan demikian, manfaatnya diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan oleh warga binaan. (red)














